Inflasi tertinggi di dunia, kembali menjadi perhatian dunia ketika harga pangan, energi, transportasi, tempat tinggal, dan layanan pokok meningkat lebih cepat dibandingkan penghasilan masyarakat. Sejumlah negara mampu menjaga kenaikan harga pada tingkat rendah, tetapi beberapa wilayah masih menghadapi inflasi puluhan hingga ratusan persen dalam satu tahun.
Venezuela menempati posisi paling mencolok dalam proyeksi inflasi global 2026. Dana Moneter Internasional memperkirakan inflasi rata rata negara tersebut mencapai 387,4 persen. Angka ini terpaut sangat jauh dari proyeksi Sudan sebesar 75,1 persen, Iran sekitar 68,9 persen, Argentina 30,4 persen, serta Turki 28,6 persen.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kenaikan harga tidak berlangsung secara merata. Inflasi dunia secara keseluruhan diperkirakan berada pada 4,7 persen sepanjang 2026, naik dari 4,1 persen pada 2025. Perbedaan sangat lebar antara rata rata global dan negara dengan inflasi tertinggi memperlihatkan beratnya persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat di sejumlah wilayah.
Memahami Arti Inflasi Sebelum Melihat Daftar Negara
Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara luas dalam periode tertentu. Kenaikan harga satu produk belum dapat disebut inflasi apabila harga barang lain tetap stabil. Pengukuran biasanya menggunakan indeks harga konsumen yang mencatat perubahan biaya sebuah keranjang barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga.
Keranjang tersebut dapat mencakup makanan, minuman, pakaian, biaya tempat tinggal, listrik, bahan bakar, pendidikan, layanan kesehatan, komunikasi, dan transportasi. Setiap kelompok memiliki bobot berbeda sesuai pola pengeluaran masyarakat di negara bersangkutan.
Ketika indeks harga konsumen meningkat 10 persen dalam setahun, masyarakat secara umum membutuhkan uang 10 persen lebih banyak untuk membeli kelompok barang dan jasa yang sama. Namun, pengalaman setiap rumah tangga dapat berbeda. Keluarga yang menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk makanan dapat merasakan tekanan lebih berat apabila harga pangan naik jauh melampaui angka inflasi umum.
Inflasi juga mengurangi daya beli uang. Uang tunai yang sebelumnya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama satu bulan dapat hanya bertahan beberapa pekan ketika kenaikan harga berlangsung cepat. Kondisi tersebut makin berat apabila upah tidak meningkat sebanding dengan biaya hidup.
Venezuela Berada Jauh di Atas Negara Lain
Venezuela diproyeksikan mencatat inflasi rata rata 387,4 persen pada 2026. IMF juga memperkirakan inflasi akhir periode negara itu berada sekitar 219,7 persen. Perbedaan kedua angka tersebut berasal dari metode pengukuran yang tidak sama. Inflasi rata rata membandingkan tingkat harga rata rata sepanjang satu tahun dengan tahun sebelumnya, sedangkan inflasi akhir periode membandingkan harga pada akhir tahun dengan posisi akhir tahun sebelumnya.
Inflasi sebesar 387,4 persen tidak berarti seluruh harga naik dalam persentase yang sama. Sebagian produk dapat mengalami kenaikan lebih tinggi, sementara barang yang memperoleh subsidi atau pengendalian harga mungkin bergerak lebih lambat. Akan tetapi, angka tersebut tetap menunjukkan penurunan daya beli yang sangat besar.
Masyarakat Venezuela telah menghadapi ketidakstabilan harga selama bertahun tahun. Krisis tersebut berkaitan dengan kesalahan pengelolaan ekonomi, defisit fiskal besar, penurunan kemampuan produksi, pelemahan mata uang, keterbatasan devisa, serta menurunnya kepercayaan terhadap sistem keuangan domestik. Kajian IMF mencatat bahwa pengelolaan ekonomi yang buruk mempercepat keruntuhan ekonomi dan menghasilkan defisit fiskal yang sangat besar.
Ketika nilai mata uang domestik terus melemah, harga barang impor meningkat. Perusahaan harus membayar lebih mahal untuk membeli bahan baku, suku cadang, mesin, obat, dan kebutuhan produksi dari luar negeri. Kenaikan biaya tersebut kemudian diteruskan ke harga jual.
Masalah menjadi lebih rumit ketika pemerintah membiayai defisit dengan memperbesar jumlah uang beredar tanpa diikuti peningkatan produksi barang dan jasa. Lebih banyak uang beredar untuk memperebutkan jumlah barang yang terbatas. Harga pun bergerak naik dengan cepat.
“Menurut penulis, inflasi ratusan persen bukan sekadar perubahan angka statistik, tetapi bentuk penyusutan nilai kerja karena pendapatan yang diterima hari ini dapat kehilangan sebagian besar daya belinya dalam waktu singkat.”
Sudan Menghadapi Harga Tinggi di Tengah Konflik
Sudan berada dalam kelompok negara dengan inflasi tertinggi setelah Venezuela. IMF memperkirakan inflasi rata rata Sudan mencapai 75,1 persen pada 2026, sementara inflasi akhir periode diproyeksikan sekitar 64,1 persen.
Lonjakan harga di Sudan tidak dapat dipisahkan dari konflik bersenjata yang merusak kegiatan ekonomi, jalur distribusi, pasar, kawasan permukiman, serta fasilitas umum. Produksi pertanian terganggu, perpindahan barang menjadi lebih sulit, dan biaya transportasi meningkat.
Laporan Bank Dunia mencatat inflasi Sudan sempat melonjak menjadi 170 persen secara tahunan pada 2024, naik dari 66 persen pada 2023. Kenaikan tersebut terutama berasal dari biaya tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga.
Tekanan harga mulai berkurang sejak April 2025 ketika sebagian kegiatan ekonomi kembali berjalan dan hambatan pasokan mulai mereda. Meski demikian, inflasi tahunan Sudan masih tercatat sekitar 68 persen pada Desember 2025. Harga pangan dan tempat tinggal tetap memberikan tekanan besar terhadap rumah tangga.
Dalam situasi konflik, persoalan inflasi tidak hanya muncul karena jumlah uang beredar. Barang sering kali tidak dapat mencapai pasar karena jalan rusak, wilayah produksi tidak aman, bahan bakar terbatas, dan pedagang harus menanggung biaya pengamanan lebih tinggi.
Keluarga berpenghasilan rendah menjadi kelompok yang paling tertekan karena sebagian besar pendapatannya digunakan untuk membeli makanan. Ketika harga tepung, beras, minyak, sayuran, dan bahan bakar naik, ruang untuk pengeluaran pendidikan atau layanan kesehatan menjadi semakin sempit.
Inflasi Iran Diperkirakan Mendekati 70 Persen
Iran diperkirakan mencatat inflasi rata rata sekitar 68,9 persen pada 2026. Inflasi pada akhir periode diproyeksikan berada di kisaran 48,7 persen. Angka tersebut menempatkan Iran dalam kelompok negara dengan kenaikan harga paling tinggi secara global.
Penelitian IMF mengenai inflasi Iran menemukan bahwa pelemahan mata uang, defisit anggaran, pertumbuhan jumlah uang, dan pembatasan perdagangan maupun keuangan menjadi unsur penting yang mendorong kenaikan harga. Pelemahan rial meningkatkan biaya barang impor, sedangkan terbatasnya pendapatan negara mempersempit ruang pemerintah untuk menstabilkan perekonomian.
Iran juga menghadapi tekanan tambahan dari kenaikan biaya energi dan gangguan perdagangan kawasan. IMF pada April 2026 memperkirakan tekanan regional menambah proyeksi inflasi Iran lebih dari 13 poin persentase, disertai pelemahan mata uang sekitar 13 hingga 15 persen.
Ketika mata uang melemah, pelaku usaha cenderung menaikkan harga untuk mengantisipasi biaya penggantian stok. Sebuah toko mungkin membeli produk hari ini dengan harga tertentu, tetapi harus membayar jauh lebih mahal saat melakukan pemesanan berikutnya. Selisih tersebut dimasukkan ke harga jual agar kegiatan usaha tetap berjalan.
Masyarakat juga dapat memilih menyimpan emas, mata uang asing, properti, atau barang tahan lama daripada mempertahankan tabungan dalam mata uang domestik. Perubahan perilaku tersebut meningkatkan permintaan terhadap aset tertentu dan memperbesar tekanan terhadap nilai tukar.
Argentina Mulai Menurunkan Inflasi dari Tingkat Sangat Tinggi
Argentina masih berada dalam daftar negara dengan inflasi tinggi, tetapi arahnya berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. IMF memperkirakan inflasi rata rata Argentina mencapai 30,4 persen pada 2026, sedangkan inflasi akhir tahun diperkirakan turun mendekati 25 persen.
Angka tersebut tetap tinggi bagi masyarakat, tetapi jauh lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi Argentina pada 2024 yang mencapai sekitar 219,9 persen. Penurunan terjadi setelah pemerintah menjalankan pengetatan fiskal, mengurangi pembiayaan defisit melalui bank sentral, serta mengubah kebijakan nilai tukar.
IMF menilai program stabilisasi Argentina menonjol karena penyesuaian fiskalnya berlangsung cepat dan besar. Pengetatan anggaran sekitar 5 persen terhadap produk domestik bruto diterapkan dalam waktu singkat. Kebijakan nilai tukar juga digunakan untuk membantu menahan perkiraan kenaikan harga.
Penurunan inflasi tidak serta merta mengembalikan harga ke tingkat sebelumnya. Ketika inflasi turun dari 200 persen menjadi 30 persen, harga tetap naik, hanya kecepatannya yang lebih rendah. Hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman karena masyarakat berharap harga kembali murah saat pemerintah mengumumkan keberhasilan menekan inflasi.
Pemulihan daya beli membutuhkan kenaikan pendapatan riil yang lebih cepat daripada kenaikan harga. Apabila upah meningkat 20 persen, sedangkan harga naik 30 persen, kemampuan belanja pekerja masih menurun meski inflasi telah jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Turki Masih Bergulat dengan Kenaikan Harga Jasa
Turki diperkirakan mencatat inflasi rata rata 28,6 persen pada 2026. IMF memperkirakan inflasi pada akhir tahun berada sekitar 23 persen. Tingkat tersebut menunjukkan perbaikan, tetapi masih jauh di atas sasaran harga yang lazim digunakan banyak bank sentral.
Inflasi Turki telah berada pada tingkat tinggi sejak 2021. Salah satu persoalan yang sulit dikendalikan adalah kenaikan harga jasa yang lebih bertahan dibandingkan harga barang. Biaya sewa, pendidikan, restoran, transportasi, dan berbagai layanan dapat terus meningkat meskipun harga beberapa komoditas mulai melandai.
Bank sentral Turki sempat meningkatkan suku bunga acuan dari 8,5 persen menjadi 50 persen dalam waktu kurang dari satu tahun hingga Maret 2024. Pengetatan tersebut ditujukan untuk mengurangi permintaan berlebihan, memperkuat mata uang, dan menahan kenaikan harga.
Namun, kebijakan suku bunga bekerja secara bertahap. Kredit menjadi lebih mahal, penjualan properti dan kendaraan dapat melambat, sedangkan perusahaan menunda sebagian ekspansi. Pada saat bersamaan, harga jasa dapat tetap tinggi karena kontrak sewa, penyesuaian upah, dan kebiasaan perusahaan menetapkan harga berdasarkan perkiraan inflasi.
Mengapa Nilai Tukar Sangat Menentukan Harga
Sebagian besar negara dengan inflasi tertinggi memiliki mata uang yang lemah atau tidak stabil. Pelemahan nilai tukar membuat barang impor menjadi lebih mahal dalam mata uang domestik. Efeknya tidak berhenti pada produk yang dijual langsung kepada konsumen.
Industri makanan membutuhkan pupuk, mesin, bahan kemasan, dan bahan bakar. Rumah sakit memerlukan obat, alat medis, dan komponen elektronik. Perusahaan transportasi membeli suku cadang, ban, dan kendaraan. Apabila seluruh kebutuhan tersebut dibayar menggunakan dolar atau mata uang asing lain, pelemahan mata uang domestik akan menaikkan biaya produksi.
Negara yang sangat bergantung pada impor pangan dan energi menghadapi risiko lebih besar. Kenaikan harga minyak dunia atau gangguan jalur perdagangan dapat langsung meningkatkan biaya transportasi dan listrik. Harga pangan kemudian ikut naik karena distribusi menggunakan bahan bakar.
IMF menyebut negara berkembang pengimpor komoditas menghadapi tekanan lebih berat ketika harga energi dan bahan pangan meningkat. Pelemahan mata uang dapat memperkuat kenaikan tersebut karena barang yang sama harus dibeli menggunakan lebih banyak uang domestik.
Defisit Anggaran Dapat Mempercepat Kenaikan Harga
Defisit terjadi ketika belanja pemerintah lebih besar daripada pendapatan. Pemerintah dapat menutup kekurangan dengan utang, menggunakan cadangan, menaikkan pajak, mengurangi belanja, atau memperoleh pembiayaan dari bank sentral.
Persoalan membesar ketika pembiayaan dilakukan dengan menciptakan uang dalam jumlah besar. Apabila tambahan uang tidak disertai kenaikan produksi, permintaan meningkat lebih cepat daripada pasokan. Pedagang menaikkan harga karena stok terbatas dan biaya pengadaan terus berubah.
Defisit yang berlangsung lama juga dapat melemahkan kepercayaan terhadap mata uang. Investor dan masyarakat khawatir pemerintah tidak mampu membayar kewajibannya tanpa kembali menambah jumlah uang beredar. Mereka kemudian memindahkan tabungan ke mata uang asing atau aset lain.
Kepercayaan memiliki peran penting karena harga tidak hanya ditentukan oleh biaya saat ini. Pelaku usaha juga memperhitungkan biaya beberapa pekan atau bulan berikutnya. Apabila mereka yakin mata uang akan melemah, harga dinaikkan lebih awal agar tidak mengalami kerugian.
Inflasi Tinggi Mengubah Cara Masyarakat Menggunakan Uang
Dalam negara dengan inflasi rendah, pekerja dapat menerima gaji bulanan dan mengatur pengeluaran hingga akhir bulan. Pola tersebut sulit diterapkan ketika harga naik hampir setiap hari. Masyarakat terdorong segera membelanjakan pendapatan sebelum nilainya menyusut.
Toko harus lebih sering mengganti label harga. Perusahaan memperpendek masa berlaku penawaran. Pemilik properti meminta pembayaran sewa dalam mata uang asing. Pekerja menuntut penyesuaian upah lebih sering agar pendapatannya tidak tertinggal.
Tabungan tunai kehilangan fungsi sebagai penyimpan nilai. Keluarga yang selama bertahun tahun mengumpulkan uang dapat kehilangan sebagian besar kemampuan belanjanya dalam waktu singkat. Bunga simpanan juga tidak membantu apabila tingkatnya jauh di bawah inflasi.
“Ketika masyarakat lebih sibuk melindungi nilai uang daripada meningkatkan kegiatan produktif, inflasi telah berubah menjadi persoalan kepercayaan yang menjalar ke seluruh kegiatan ekonomi.”
Kelompok pensiunan dan pekerja dengan penghasilan tetap menghadapi tekanan paling berat. Pendapatan mereka biasanya disesuaikan lebih lambat, sedangkan harga makanan, obat, listrik, dan transportasi bergerak lebih cepat.
Angka Inflasi Global Tidak Selalu Dapat Dibandingkan Secara Sederhana
Daftar negara dengan inflasi tertinggi harus dibaca secara hati hati karena setiap lembaga dapat menggunakan periode, metode, dan sumber data berbeda. Angka inflasi bulanan, tahunan, rata rata tahunan, serta akhir periode dapat menghasilkan urutan yang tidak sama.
Data IMF yang digunakan untuk proyeksi 2026 sebagian besar merupakan perkiraan berdasarkan informasi yang tersedia ketika laporan disusun. Angka tersebut dapat diperbarui ketika pemerintah menerbitkan data baru, terjadi perubahan nilai tukar, atau harga energi bergerak di luar perkiraan.
IMF menerbitkan basis data World Economic Outlook dua kali dalam setahun, biasanya pada April dan Oktober. Basis tersebut mencakup data inflasi, pertumbuhan ekonomi, pengangguran, transaksi berjalan, dan keuangan pemerintah. Sebagian data merupakan catatan resmi, sedangkan bagian lain berupa estimasi staf IMF ketika informasi nasional belum lengkap.
Negara yang sedang mengalami konflik juga dapat menghadapi keterbatasan pengumpulan data. Petugas statistik mungkin tidak dapat menjangkau seluruh wilayah, pasar berhenti beroperasi, dan pola konsumsi berubah secara mendadak. Angka nasional tetap berguna sebagai gambaran umum, tetapi kondisi di sebuah kota dapat jauh lebih berat daripada rata rata negara.
Perbandingan yang paling tepat perlu menggunakan indikator serupa, periode sama, dan sumber yang jelas. Dengan cara tersebut, posisi Venezuela, Sudan, Iran, Argentina, dan Turki dapat dilihat sebagai gambaran tingkat tekanan harga, bukan sekadar perlombaan angka antarnegara.
Harga Pangan Menjadi Tekanan Paling Berat bagi Rumah Tangga
Pangan menempati porsi besar dalam pengeluaran keluarga berpendapatan rendah. Karena itu, kenaikan harga makanan sering terasa lebih berat dibandingkan perubahan pada barang lain. Keluarga tidak mudah mengurangi kebutuhan makan seperti mengurangi pembelian pakaian atau hiburan.
Ketika bahan pangan pokok naik, rumah tangga mulai mengganti jenis makanan, mengurangi porsi, membeli produk berkualitas lebih rendah, atau menunda kebutuhan lainnya. Pengeluaran untuk pendidikan, perawatan kesehatan, dan perbaikan rumah dapat dikurangi agar uang cukup untuk membeli makanan.
Pedagang kecil juga menghadapi tekanan. Mereka harus membeli stok dengan harga baru, tetapi pelanggan belum tentu mampu menerima kenaikan penuh. Pilihannya adalah mengurangi ukuran produk, menurunkan kualitas bahan, menerima keuntungan lebih kecil, atau menaikkan harga dan berisiko kehilangan pembeli.
Inflasi pangan dapat terus bertahan apabila produksi pertanian terganggu oleh konflik, cuaca buruk, kelangkaan pupuk, biaya bahan bakar, atau hambatan distribusi. Negara yang kekurangan cadangan devisa juga kesulitan menambah impor untuk menutup kekurangan pasokan.
Kebijakan Menekan Inflasi Membutuhkan Kepercayaan dan Pasokan Barang
Bank sentral biasanya menaikkan suku bunga untuk mengurangi tekanan harga. Kredit yang lebih mahal dapat menahan konsumsi dan investasi yang dibiayai pinjaman. Kebijakan tersebut juga dapat menarik dana ke instrumen berdenominasi mata uang domestik sehingga membantu menjaga nilai tukar.
Namun, suku bunga tidak cukup apabila inflasi berasal dari perang, kerusakan jalur distribusi, kelangkaan pangan, atau penurunan produksi. Pemerintah perlu memulihkan pasar, menjaga pasokan energi, memperbaiki transportasi, serta memastikan barang dapat bergerak dari produsen menuju konsumen.
Disiplin anggaran juga dibutuhkan agar bank sentral tidak terus membiayai pengeluaran pemerintah. Kebijakan fiskal dan moneter harus bergerak searah. Upaya bank sentral menaikkan suku bunga akan kurang efektif apabila pemerintah tetap memperbesar jumlah uang beredar melalui pembiayaan defisit.
Kepercayaan masyarakat harus dibangun melalui kebijakan yang konsisten, data terbuka, dan aturan yang tidak berubah mendadak. Ketika rumah tangga dan perusahaan percaya inflasi akan turun, mereka tidak lagi terburu buru membeli barang atau menaikkan harga secara berlebihan.
Pada negara dengan inflasi ratusan persen, pemulihan biasanya memerlukan lebih dari satu kebijakan. Penataan anggaran, stabilisasi mata uang, pemulihan produksi, peningkatan pasokan, perbaikan lembaga keuangan, serta perlindungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah perlu berjalan bersamaan.






