Rupiah Melonjak Usai Prabowo Ajukan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI

Nilai tukar rupiah mencatat penguatan tajam pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, bertepatan dengan keputusan Presiden Prabowo Subianto mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Mata uang Indonesia ditutup menguat 142 poin atau 0,79 persen menjadi Rp17.755 per dolar Amerika Serikat, dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.897 per dolar AS. Kurs JISDOR Bank Indonesia juga menguat menjadi Rp17.795 dari sebelumnya Rp17.913 per dolar AS.

Penguatan rupiah bahkan sempat lebih besar pada perdagangan intraday. Data pasar yang dikutip CNBC Indonesia menunjukkan rupiah berada di sekitar Rp17.740 per dolar AS pada pukul 13.33 WIB atau naik 0,81 persen. Reuters mencatat penguatan setelah pengumuman pencalonan Destry membawa rupiah ke posisi terkuat terhadap dolar AS sejak 18 Juni 2026.

Pergerakan tersebut langsung menarik perhatian karena terjadi setelah beberapa bulan rupiah berada dalam tekanan berat. Pasar melihat pilihan Prabowo terhadap Destry sebagai sinyal bahwa pergantian kepemimpinan Bank Indonesia berpeluang berlangsung tanpa perubahan kebijakan secara mendadak. Namun pencalonan Destry bukan satu satunya faktor yang membantu rupiah. Data keyakinan konsumen, pergerakan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik juga ikut diperhatikan pelaku pasar.

Prabowo Resmi Kirim Nama Destry ke DPR

Kepastian mengenai pencalonan Destry muncul setelah Presiden Prabowo mengirim Surat Presiden kepada Dewan Perwakilan Rakyat pada Senin, 10 Agustus 2026. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi datang ke kompleks parlemen untuk menyerahkan sejumlah surat Presiden, termasuk nama calon pimpinan baru Bank Indonesia.

Prasetyo memastikan hanya terdapat satu nama yang diajukan untuk posisi Gubernur BI, yakni Destry Damayanti. Destry saat ini menjalankan tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari posisi Gubernur Bank Indonesia.

Pemerintah juga menyerahkan pencalonan untuk mengisi posisi lain di Dewan Gubernur Bank Indonesia. Prasetyo menyebut terdapat calon pengganti untuk jabatan Deputi Gubernur Senior yang akan ditinggalkan apabila Destry menjadi Gubernur BI definitif. Namun pemerintah saat itu belum membuka nama calon tersebut kepada publik.

Destry belum otomatis menjadi Gubernur BI definitif hanya karena namanya diajukan Presiden. Ia masih harus menjalani mekanisme di DPR, termasuk uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI. Reuters melaporkan parlemen memiliki waktu satu bulan untuk menerima atau menolak pencalonan tersebut.

Pasar Menyambut Pilihan Destry dengan Rupiah Menguat

Reaksi pasar terlihat tidak lama setelah informasi pencalonan Destry menjadi jelas. Bloomberg Technoz mencatat rupiah sempat menguat hingga sekitar Rp17.770 per dolar AS setelah nama Destry diumumkan sebagai calon tunggal. Penguatan tersebut dinilai berkaitan dengan berkurangnya ketidakpastian mengenai arah pergantian pimpinan bank sentral.

Investor sebelumnya menunggu siapa yang akan dipilih Prabowo setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Pergantian pucuk pimpinan bank sentral menjadi perhatian besar karena kebijakan suku bunga, stabilisasi rupiah dan pengelolaan likuiditas mempunyai hubungan langsung dengan keputusan investor di pasar keuangan.

Destry bukan figur baru di Bank Indonesia. Ia telah menjadi Deputi Gubernur Senior sejak 2019 dan kembali ditetapkan untuk periode 2024 sampai 2029. Posisi tersebut membuat pelaku pasar relatif mengenal pandangannya mengenai inflasi, rupiah, likuiditas dan pertumbuhan ekonomi.

Reuters mengutip ekonom DBS Radhika Rao yang menilai pencalonan Destry kemungkinan diterima positif oleh pasar karena pengalamannya di Bank Indonesia dan pasar keuangan domestik. Rao juga menyoroti perhatian Destry terhadap stabilisasi nilai tukar serta peluang berlanjutnya garis kebijakan yang telah dijalankan bank sentral.

Menurut penulis, respons rupiah menunjukkan bahwa pelaku pasar pada tahap awal lebih menyukai kepastian dan kesinambungan. Destry sudah dikenal dalam struktur Bank Indonesia sehingga risiko kejutan kebijakan dinilai lebih kecil dibanding apabila muncul figur yang sama sekali baru.

Rupiah Ditutup Menguat 142 Poin

Pergerakan rupiah sepanjang 10 Agustus memberikan gambaran seberapa kuat sentimen positif pada hari pencalonan Destry. Rupiah ditutup Rp17.755 per dolar AS, naik 142 poin dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.897. Persentase penguatannya mencapai 0,79 persen.

Penguatan juga terlihat pada kurs JISDOR yang diterbitkan Bank Indonesia. JISDOR berada pada Rp17.795 per dolar AS, membaik dari Rp17.913 pada perdagangan sebelumnya. Perbedaan antara kurs pasar dan JISDOR merupakan hal yang biasa karena metode serta waktu perhitungannya berbeda.

Reuters menyebut rupiah mencapai posisi terkuat terhadap dolar sejak 18 Juni setelah pencalonan Destry diumumkan. Catatan tersebut penting mengingat rupiah sebelumnya sempat mengalami periode yang sangat berat pada 2026. Pada awal Juni, mata uang Indonesia bahkan pernah menyentuh sekitar Rp18.190 per dolar AS sebelum Bank Indonesia mengambil langkah moneter untuk menopangnya.

Pergerakan menuju Rp17.700 menunjukkan adanya pemulihan dibandingkan tekanan yang terjadi beberapa pekan sebelumnya. Meski demikian, perubahan satu hari tidak cukup untuk menentukan arah rupiah dalam periode panjang. Pelaku pasar tetap memperhatikan kebijakan Bank Indonesia, kondisi fiskal Indonesia, pergerakan dolar AS serta arus dana asing.

Pencalonan Destry Bukan Satu Satunya Pendorong Rupiah

Meski penguatan terjadi bersamaan dengan pencalonan Destry, pergerakan rupiah pada 10 Agustus tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu berita. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia masih berada dalam zona optimistis dan menjadi salah satu faktor domestik yang diperhatikan pasar.

Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen Juli 2026 berada di level 116,8. Angka tersebut turun dari 117,8 pada Juni dan merupakan penurunan tiga bulan berturut turut. Kendati melemah, posisi indeks masih berada di atas 100 yang menunjukkan konsumen secara umum tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi.

Perkembangan internasional turut membantu. Pelaku pasar pada saat itu mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve setelah kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat mereda dan data ketenagakerjaan memberikan sinyal yang lebih lemah. Kondisi seperti ini dapat mengurangi daya tarik dolar dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat.

Perkembangan di kawasan Timur Tengah juga menjadi perhatian. Harapan terhadap tercapainya kesepakatan Iran dan Oman mengenai Selat Hormuz ikut memengaruhi sentimen perdagangan global, walaupun proses negosiasi belum selesai.

Karena itu, pencalonan Destry dapat dipandang sebagai salah satu katalis domestik yang hadir ketika sejumlah faktor lain bergerak lebih ramah terhadap rupiah.

Destry Sudah Memimpin BI untuk Sementara

Nama Destry sebenarnya telah berada di pusat perhatian pasar sejak akhir Juli 2026. Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur pada 26 Juli menetapkan Destry sebagai Pejabat Gubernur Sementara setelah posisi Gubernur BI kosong. Penetapan tersebut dilakukan sesuai ketentuan Pasal 50 ayat 2 UU BI.

Destry menempati posisi tersebut karena sebelumnya merupakan Deputi Gubernur Senior. Dengan demikian, pencalonannya menjadi gubernur definitif tidak membawa pergantian mendadak terhadap orang yang saat ini menjalankan fungsi tertinggi di bank sentral.

Perry Warjiyo sebelumnya mengundurkan diri secara tidak terduga pada akhir Juli dengan alasan pribadi. Pengunduran diri itu sempat memicu kecemasan investor mengenai suksesi kepemimpinan BI dan independensi kebijakan moneter Indonesia. Reuters mencatat rupiah melemah hingga sekitar Rp17.990 per dolar AS setelah kabar tersebut muncul.

Destry kemudian menyampaikan bahwa Bank Indonesia tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan meneruskan kebijakan yang sudah berjalan. Sikap tersebut membantu memberikan pesan bahwa pergantian pimpinan tidak serta merta mengubah pendekatan bank sentral.

Pengalaman Destry Panjang di Ekonomi dan Pasar Keuangan

Salah satu alasan Destry mendapat respons relatif baik berasal dari perjalanan kariernya yang panjang. Berdasarkan profil resmi Bank Indonesia, Destry lahir di Jakarta pada 1963. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia dan memperoleh Master of Science di bidang Regional Science dari Cornell University, Amerika Serikat.

Karier profesionalnya mencakup pekerjaan sebagai penasihat ekonomi, peneliti, pengajar, ekonom pasar modal dan bankir. Ia pernah menjadi Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas pada 2005 sampai 2011, kemudian Kepala Ekonom Bank Mandiri pada 2011 sampai 2015. Destry juga pernah menjadi Ketua Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN.

Sebelum masuk ke Bank Indonesia, Destry menjadi Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan pada periode 2015 sampai 2019. Ia kemudian ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia pada 2019 dan kembali memperoleh mandat untuk periode kedua pada 2024.

Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menyebut Destry mempunyai pengalaman yang lengkap untuk memimpin bank sentral. Anggito menilai latar belakang Destry di bidang ekonomi, LPS dan Bank Indonesia dapat membantu koordinasi dengan Kementerian Keuangan, OJK serta lembaga lain di sektor keuangan.

Ekonom Melihat Kesinambungan Kebijakan Sebagai Nilai Utama

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai keputusan mengajukan Destry merupakan pilihan yang tepat untuk menjaga kesinambungan kebijakan moneter. Ia menyoroti pengalaman Destry yang mencakup akademik, pasar keuangan, perbankan, LPS hingga bank sentral.

Reuters juga menggambarkan Destry sebagai pembuat kebijakan yang berorientasi pada stabilitas tetapi tetap memberi perhatian pada pertumbuhan ekonomi. Penilaian tersebut menjadi penting ketika Bank Indonesia harus menjaga nilai tukar dan inflasi sambil menghadapi dorongan agar kebijakan moneter ikut mendukung aktivitas ekonomi.

Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga total 100 basis poin sepanjang 2026 ketika rupiah menghadapi tekanan berat. Bank sentral juga menggunakan instrumen pasar dan berbagai langkah untuk menarik aliran modal masuk serta menjaga kestabilan nilai tukar.

Apabila Destry memperoleh persetujuan DPR, perhatian pasar akan tertuju pada seberapa jauh pendekatan tersebut dipertahankan dan bagaimana BI menyeimbangkan kebutuhan menjaga rupiah dengan kebutuhan menyediakan likuiditas bagi perekonomian.

Independensi Bank Indonesia Tetap Menjadi Sorotan Investor

Respons positif terhadap Destry tidak berarti seluruh kekhawatiran pasar selesai. Reuters mencatat investor masih memperhatikan independensi Bank Indonesia, terutama ketika pemerintah mempunyai target pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan membutuhkan koordinasi erat antara kebijakan fiskal dengan moneter.

Ekonom senior Bright Institute Awalil Rizky Pardede, sebagaimana dikutip Reuters, melihat hubungan kerja yang baik antara Destry dengan pemerintah dan Menteri Keuangan dapat menjadi keuntungan karena mengurangi gesekan kebijakan. Namun pasar tetap akan membedakan koordinasi yang sehat dengan kondisi ketika bank sentral terlalu mengikuti kepentingan pemerintah.

Bagi investor, independensi bank sentral berkaitan dengan keyakinan bahwa keputusan suku bunga, intervensi nilai tukar dan pengendalian inflasi diambil berdasarkan kebutuhan ekonomi dan stabilitas keuangan.

Karena alasan tersebut, proses di DPR serta pernyataan Destry dalam uji kelayakan dan kepatutan berpotensi mendapat perhatian besar. Pasar tidak hanya ingin mengetahui apakah Destry akan dilantik, tetapi juga bagaimana ia memandang stabilitas harga, rupiah, likuiditas dan hubungan antara Bank Indonesia dengan pemerintah.

Menurut penulis, penguatan rupiah memberi Destry sambutan awal yang positif, tetapi ukuran utama tetap berada pada konsistensi kebijakan setelah proses politik selesai. Kepercayaan pasar biasanya dibangun melalui keputusan yang berulang, bukan hanya melalui satu hari penguatan nilai tukar.

Destry Bisa Menjadi Perempuan Pertama yang Memimpin BI Secara Definitif

Apabila memperoleh persetujuan DPR dan dilantik, Destry berpeluang mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang menjadi Gubernur Bank Indonesia secara definitif. Reuters mencatat ia menjadi kandidat perempuan pertama dengan peluang sangat besar menduduki posisi tersebut secara permanen.

Posisinya sekarang berbeda karena ia masih berstatus Pejabat Gubernur Sementara. Status definitif baru diperoleh setelah seluruh proses pencalonan selesai sesuai ketentuan yang berlaku.

DPR belum pernah menolak calon gubernur bank sentral yang diajukan Presiden sejak 2008, menurut catatan Reuters. Meski demikian, proses uji kelayakan tetap menjadi tahapan resmi yang harus dijalani sebelum pengangkatan.

Belum terdapat kejelasan pula apakah gubernur baru nantinya memperoleh masa jabatan lima tahun penuh atau hanya melanjutkan sisa periode Perry Warjiyo yang seharusnya berakhir pada 2028. Persoalan masa jabatan tersebut masih menjadi salah satu bagian yang ditunggu penjelasannya.

Ujian Berikutnya Datang dari Rapat Kebijakan BI

Perhatian pasar berikutnya akan bergerak menuju Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 18 sampai 19 Agustus 2026. Pertemuan tersebut menjadi agenda penting karena berlangsung hanya beberapa hari setelah pencalonan Destry diumumkan.

Pelaku pasar akan mencermati keputusan suku bunga sekaligus pesan Bank Indonesia mengenai rupiah, inflasi, aliran modal dan kondisi likuiditas perbankan. Setiap perubahan nada komunikasi dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan selama masa transisi kepemimpinan.

Posisi rupiah juga masih akan dipengaruhi perkembangan dolar Amerika Serikat. Pasar menunggu data inflasi AS Juli yang dijadwalkan keluar pada 12 Agustus 2026 karena angka tersebut dapat mengubah perkiraan terhadap langkah Federal Reserve.

Bagi Destry, periode ini menjadi ujian pertama setelah Presiden secara resmi menempatkan namanya sebagai calon tunggal. Rupiah telah memberikan respons awal dengan bergerak dari Rp17.897 menjadi Rp17.755 per dolar AS pada 10 Agustus. Selanjutnya, perhatian bergeser dari pengumuman pencalonan menuju keputusan kebijakan dan kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas ketika tekanan domestik maupun global terus berubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *