Polusi Menggerus Kesehatan, dari Paru Paru hingga Jantung

Polusi kerap terlihat sebagai persoalan lingkungan yang jauh dari kehidupan sehari hari. Padahal, udara yang dihirup, air yang diminum, suara yang terdengar, serta asap yang memenuhi rumah berhubungan langsung dengan kondisi tubuh. Paparan tidak selalu menimbulkan keluhan seketika. Gangguan dapat berkembang perlahan setelah seseorang menghirup atau bersentuhan dengan zat pencemar selama berbulan bulan hingga bertahun tahun.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut polusi udara sebagai faktor risiko kesehatan lingkungan terbesar. Dokumen teknis WHO yang diterbitkan pada Juni 2026 memperkirakan pencemaran udara berkaitan dengan sekitar 6,6 juta kematian di dunia setiap tahun. Sekitar 84 persen kematian tersebut berasal dari penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung, stroke, gangguan pernapasan kronis, dan kanker.

Kelompok yang paling rentan meliputi anak, ibu hamil, lanjut usia, penderita penyakit kronis, serta masyarakat berpenghasilan rendah. Mereka dapat menghadapi paparan lebih besar karena lokasi tempat tinggal, pekerjaan, akses terhadap energi bersih, kondisi rumah, maupun keterbatasan memperoleh layanan kesehatan.

Partikel Halus Menjadi Ancaman yang Sulit Dilihat

Tidak semua pencemar udara terlihat sebagai asap tebal. Salah satu zat yang paling berbahaya adalah particulate matter atau materi partikulat. Zat ini merupakan campuran partikel padat dan cair yang melayang di udara, termasuk debu, jelaga, asap, serta senyawa kimia berukuran sangat kecil.

Partikel dibedakan berdasarkan ukurannya. PM10 memiliki diameter tidak lebih dari 10 mikrometer, sedangkan PM2.5 memiliki diameter tidak lebih dari 2,5 mikrometer. Sebagai perbandingan, diameter rambut manusia rata rata sekitar 70 mikrometer. Ukuran PM2.5 yang sangat kecil membuatnya dapat terhirup jauh ke dalam paru paru dan sebagian dapat memasuki aliran darah.

PM2.5 dapat berasal dari kendaraan bermotor, pembangkit listrik, kegiatan industri, kebakaran hutan, pembakaran sampah, kompor berbahan bakar padat, serta reaksi kimia berbagai gas di atmosfer. Kegiatan konstruksi dan jalan yang tidak beraspal juga dapat menghasilkan partikel debu, meski tingkat bahayanya bergantung pada ukuran dan kandungan kimianya.

Paparan partikel halus dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan dan jaringan paru. Tubuh kemudian memberikan respons yang dapat memengaruhi pembuluh darah, pembekuan darah, tekanan darah, serta kerja jantung. Karena prosesnya terjadi di dalam tubuh, seseorang tidak dapat menilai tingkat risiko hanya dari warna langit atau bau udara.

Saluran Pernapasan Menjadi Bagian Pertama yang Terpapar

Hidung dan saluran pernapasan menjadi jalur utama masuknya pencemar udara. Dalam waktu singkat, paparan dapat menyebabkan mata perih, hidung tidak nyaman, tenggorokan terasa kering, batuk, sesak, atau produksi lendir meningkat. Keluhan lebih mudah muncul pada penderita asma dan penyakit paru kronis.

Partikel kecil dan gas pencemar dapat mengiritasi saluran napas serta memperburuk peradangan yang telah ada. Penderita asma dapat mengalami serangan lebih sering ketika kualitas udara memburuk. Orang dengan penyakit paru obstruktif kronis juga dapat mengalami peningkatan sesak yang membutuhkan pengobatan atau perawatan di rumah sakit.

WHO menyatakan hubungan terkuat antara pencemaran udara dan penyakit mencakup penyakit paru obstruktif kronis, pneumonia, serta kanker paru. Polusi rumah tangga juga diketahui mengganggu respons kekebalan, menimbulkan peradangan pada saluran napas, dan menurunkan kemampuan darah membawa oksigen.

Infeksi saluran pernapasan juga menjadi perhatian, terutama pada anak. Paparan asap dapat melemahkan pertahanan alami saluran napas sehingga tubuh lebih mudah mengalami infeksi. Anak yang masih memiliki saluran napas kecil dapat mengalami gangguan lebih berat ketika terjadi pembengkakan atau penumpukan lendir.

Jantung dan Pembuluh Darah Ikut Menanggung Risiko

Polusi udara bukan hanya persoalan paru paru. WHO mencatat sebagian besar kematian yang berkaitan dengan udara luar tercemar berasal dari penyakit jantung iskemik dan stroke. Pada data 2019, sekitar 68 persen kematian dini akibat pencemaran udara luar berhubungan dengan dua kelompok penyakit tersebut.

Partikel yang masuk ke paru dapat memicu reaksi peradangan dan perubahan pada pembuluh darah. Keadaan ini dapat memperberat kerja jantung, mengganggu kestabilan plak pada pembuluh, serta meningkatkan kecenderungan pembentukan bekuan darah. Orang yang telah memiliki hipertensi, penyakit jantung koroner, atau gangguan irama jantung perlu lebih berhati hati saat kualitas udara berada pada tingkat buruk.

Paparan dalam waktu panjang dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah. Sementara itu, peningkatan pencemaran dalam waktu singkat dapat menjadi pemicu keluhan pada orang yang telah mempunyai penyakit. Karena itu, kabut asap atau lonjakan polusi di perkotaan tidak boleh dianggap sekadar gangguan pandangan.

“Udara tercemar tidak berhenti di paru paru. Partikel halus dapat memengaruhi sirkulasi darah dan memperberat penyakit yang sebelumnya telah dimiliki seseorang.”

Anak Menghadapi Risiko sejak Dalam Kandungan

Anak memiliki pola pernapasan dan aktivitas yang membuat jumlah udara yang masuk ke tubuh relatif besar dibandingkan ukuran badannya. Paru mereka juga masih berkembang, sedangkan sistem pertahanan tubuh belum bekerja sekuat orang dewasa. Kondisi tersebut membuat paparan polusi pada usia dini perlu mendapat perhatian khusus.

WHO mengaitkan pencemaran udara dengan infeksi pernapasan, asma, gangguan perkembangan fungsi paru, gangguan perkembangan otak, serta peningkatan kematian pada anak. Bukti juga menunjukkan hubungan dengan hasil kehamilan yang tidak baik, termasuk berat lahir rendah.

Ibu hamil yang tinggal atau bekerja di lingkungan tercemar tidak selalu merasakan gejala khusus. Namun, zat pencemar dapat memicu peradangan dan mengganggu pasokan oksigen. Perlindungan terhadap ibu hamil karena itu tidak cukup hanya dilakukan saat keluhan muncul.

Asap dari kegiatan memasak menggunakan bahan bakar padat menjadi persoalan besar di sejumlah rumah tangga. WHO memperkirakan lebih dari 309.000 kematian anak berusia di bawah lima tahun pada 2021 berkaitan dengan pencemaran udara rumah tangga.

Asap di Dalam Rumah Bisa Lebih Pekat

Rumah sering dianggap sebagai tempat yang terlindung dari polusi. Anggapan tersebut tidak selalu benar. Asap memasak, asap rokok orang lain, obat nyamuk bakar, jamur, ventilasi buruk, serta bahan kimia tertentu dapat menurunkan kualitas udara di dalam ruangan.

Sekitar 2,1 miliar penduduk dunia masih memasak menggunakan api terbuka atau tungku tidak efisien berbahan minyak tanah, kayu, arang, batu bara, kotoran hewan, dan limbah tanaman. Pada rumah dengan ventilasi buruk, konsentrasi partikel halus dapat mencapai 100 kali lebih tinggi dibandingkan tingkat yang dianggap dapat diterima.

Perempuan dan anak sering memperoleh paparan lebih tinggi karena menghabiskan lebih banyak waktu di sekitar area memasak. Asap rumah tangga berkaitan dengan stroke, penyakit jantung iskemik, penyakit paru obstruktif kronis, kanker paru, serta infeksi saluran pernapasan bawah. WHO memperkirakan pencemaran udara rumah tangga menyebabkan sekitar 2,9 juta kematian pada 2021.

Membuka jendela dapat membantu pertukaran udara, tetapi belum tentu cukup apabila sumber asap terus digunakan. Perbaikan lebih kuat membutuhkan bahan bakar bersih, teknologi memasak dengan emisi rendah, cerobong yang tepat, serta desain ventilasi yang sesuai.

Kanker Paru Tidak Hanya Berkaitan dengan Rokok

Merokok tetap menjadi penyebab utama kanker paru, tetapi udara tercemar juga termasuk faktor risiko yang telah diakui. Partikel halus dapat membawa senyawa yang bersifat karsinogenik dan terus bersentuhan dengan jaringan paru selama proses pernapasan.

WHO memperkirakan sekitar 4 persen kematian dini akibat pencemaran udara luar pada 2019 berasal dari kanker paru. Pencemaran udara rumah tangga akibat penggunaan minyak tanah dan bahan bakar padat juga dikaitkan dengan sebagian kematian kanker paru pada orang dewasa.

Risiko tidak berarti setiap orang yang tinggal di kota tercemar pasti mengalami kanker. Pembentukan kanker melibatkan banyak faktor, termasuk tingkat paparan, lamanya seseorang terpapar, usia, faktor genetik, pekerjaan, serta kebiasaan merokok. Namun, pengurangan polusi tetap penting karena masyarakat tidak dapat memilih untuk berhenti bernapas.

Polusi Suara Mengganggu Tidur dan Tekanan Darah

Pencemaran tidak hanya berbentuk asap atau bahan kimia. Kebisingan dari kendaraan, kereta api, pesawat, tempat pembangunan, mesin industri, dan kegiatan hiburan dapat mengganggu tubuh, terutama apabila berlangsung terus menerus atau terjadi pada malam hari.

WHO menyebut kebisingan berlebihan berkaitan dengan gangguan tidur, gangguan pendengaran, telinga berdenging, penurunan fungsi kognitif, hipertensi, serta peningkatan risiko penyakit jantung iskemik. Bukti juga terus berkembang mengenai hubungannya dengan gangguan kesehatan mental dan hasil kehamilan yang buruk.

Seseorang mungkin merasa telah terbiasa dengan suara lalu lintas, tetapi tubuh tetap dapat memberikan respons. Bunyi yang berulang dapat meningkatkan kewaspadaan saat tidur, memicu pelepasan hormon stres, serta mengurangi kualitas istirahat. Tidur yang terpotong membuat tubuh tidak memperoleh pemulihan yang memadai.

Pada anak sekolah, kebisingan dapat mengganggu perhatian, komunikasi, dan proses belajar. Sementara itu, pekerja yang berada di lingkungan bising membutuhkan pelindung pendengaran serta pengaturan waktu paparan sesuai standar keselamatan.

Air Tercemar Menjadi Jalur Penularan Penyakit

Polusi air dapat berasal dari tinja, limbah rumah tangga, kegiatan industri, pertanian, pertambangan, serta kerusakan jaringan distribusi. Air yang tampak jernih belum tentu bebas dari bakteri, virus, parasit, logam, atau senyawa kimia berbahaya.

WHO mencatat sedikitnya 1,7 miliar orang menggunakan sumber air minum yang tercemar tinja pada 2022. Air yang terkontaminasi mikroorganisme dapat menularkan diare, kolera, disentri, tifoid, hepatitis A, dan polio. Pencemaran mikrobiologis air minum diperkirakan menyebabkan sekitar 505.000 kematian akibat diare setiap tahun.

Pencemar kimia juga perlu diperhatikan. Air tanah di wilayah tertentu dapat mengandung arsenik atau fluorida secara alami. Timbal dapat masuk ke air akibat pelindian dari bagian jaringan perpipaan. Limbah pertanian dan industri yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari sumber air yang digunakan masyarakat.

Anak, lansia, serta orang dengan sistem kekebalan lemah lebih mudah mengalami komplikasi akibat penyakit yang ditularkan melalui air. Diare berat dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, kekurangan gizi, serta kematian apabila penanganannya terlambat.

Kelompok Berpenghasilan Rendah Sering Terpapar Lebih Besar

Risiko kesehatan akibat polusi tidak terbagi secara merata. Permukiman berpenghasilan rendah sering berada dekat jalan besar, kawasan industri, lokasi pembakaran sampah, saluran air tercemar, atau wilayah yang minim ruang hijau. Rumah yang padat juga dapat memiliki ventilasi terbatas.

WHO menyatakan 89 persen kematian dini akibat pencemaran udara luar pada 2019 terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Beban terbesar berada di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat.

Keterbatasan ekonomi dapat membuat keluarga sulit berpindah tempat tinggal, membeli alat penyaring udara, menggunakan bahan bakar bersih, atau memperoleh pemeriksaan kesehatan rutin. Pekerja informal di jalan raya, tempat pembuangan sampah, lokasi konstruksi, dan lingkungan industri juga dapat terpapar selama jam kerja yang panjang.

“Perlindungan kesehatan tidak boleh bergantung pada kemampuan seseorang membeli udara bersih, air aman, atau rumah yang jauh dari sumber pencemar.”

Masker Tidak Menyelesaikan Sumber Masalah

Masker yang sesuai dapat mengurangi jumlah partikel yang terhirup pada keadaan tertentu. Namun, kemampuan perlindungannya dipengaruhi jenis masker, tingkat kerapatan pada wajah, durasi penggunaan, serta jenis pencemar. Masker biasa tidak dirancang untuk menyaring seluruh gas berbahaya.

Pemantauan indeks kualitas udara dapat membantu masyarakat menentukan waktu beraktivitas. Saat tingkat pencemaran tinggi, anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit jantung atau paru dapat mengurangi kegiatan berat di luar ruangan. Obat asma atau penyakit kronis tetap harus digunakan sesuai petunjuk dokter.

Langkah individu hanya menjadi lapisan perlindungan sementara. WHO menegaskan bahwa sebagian besar sumber pencemaran udara luar berada di luar kendali perseorangan. Pengendalian membutuhkan kebijakan pada sektor transportasi, energi, industri, pengelolaan sampah, tata kota, dan pertanian.

Transportasi umum yang memadai, kendaraan rendah emisi, pembangkit energi lebih bersih, pengawasan cerobong industri, larangan pembakaran sampah, serta pengendalian kebakaran lahan dapat menurunkan paparan bagi banyak orang sekaligus.

Gejala Tertentu Membutuhkan Pemeriksaan Medis

Keluhan setelah terpapar polusi tidak selalu dapat ditangani hanya dengan beristirahat. Sesak yang berat, nyeri dada, bibir membiru, penurunan kesadaran, batuk darah, atau napas berbunyi yang tidak membaik memerlukan pertolongan medis segera.

Penderita asma perlu mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan dokter. Orang dengan penyakit jantung juga perlu memeriksakan diri apabila mengalami tekanan di dada, keringat dingin, lemas mendadak, atau nyeri yang menjalar ke lengan dan rahang.

Pada anak, tanda yang perlu diperhatikan meliputi napas sangat cepat, tarikan dinding dada, sulit minum, demam tinggi, tubuh tampak lemas, atau perubahan warna kulit. Paparan asap tidak boleh dianggap satu satunya penyebab karena gejala serupa dapat muncul pada infeksi dan penyakit lain.

Pemeriksaan kesehatan menjadi lebih penting bagi orang yang bekerja dekat debu, asap, pelarut, logam, atau bahan kimia. Penggunaan pelindung, pemeriksaan lingkungan kerja, serta pemantauan kesehatan berkala perlu dijalankan bersama agar kelainan dapat ditemukan sebelum berkembang menjadi lebih berat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *