Tahun 2025 menjadi momen penting bagi ekosistem startup Indonesia. Setelah satu dekade lebih berjuang dari fase ide, ekspansi, hingga monetisasi, sejumlah perusahaan rintisan akhirnya melangkah ke tahap tertinggi dalam perjalanan bisnis mereka: go public. Fenomena ini menjadi indikator bahwa iklim bisnis digital di Indonesia telah matang dan siap bersaing di tingkat global.
Keberhasilan beberapa startup lokal untuk melantai di bursa efek tidak hanya mencerminkan pertumbuhan bisnis mereka, tetapi juga meningkatnya kepercayaan investor terhadap potensi ekonomi digital nasional. Dari perusahaan teknologi finansial, logistik, hingga e-commerce, semuanya menunjukkan bahwa inovasi anak bangsa kini punya posisi penting dalam peta ekonomi Asia Tenggara.
โKetika startup berani melantai di bursa, itu bukan sekadar pencapaian finansial, tetapi simbol kedewasaan industri digital Indonesia.โ
Lonjakan Kepercayaan Investor Terhadap Pasar Startup
Salah satu tren paling mencolok di 2025 adalah meningkatnya minat investor terhadap sektor teknologi di Indonesia. Setelah suksesnya IPO beberapa perusahaan besar seperti GoTo dan Blibli di tahun-tahun sebelumnya, gelombang baru startup yang siap go public pun bermunculan.
Investor kini tidak lagi hanya menilai startup berdasarkan potensi ide, tetapi juga pada kemampuan mereka menjaga profitabilitas dan stabilitas jangka panjang. Dengan transparansi yang lebih baik dan tata kelola keuangan yang semakin profesional, perusahaan rintisan Indonesia mulai dilihat sebagai instrumen investasi yang menjanjikan.
โKunci kepercayaan investor bukan lagi pada narasi pertumbuhan semata, tetapi pada kemampuan startup membuktikan bahwa mereka bisa berkelanjutan.โ
Daftar Startup Indonesia yang Berhasil Go Public di 2025

Di sepanjang tahun 2025, ada beberapa nama startup yang mencuri perhatian publik dan analis pasar karena keberhasilannya mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI).
1. Xendit: Fintech Unggulan yang Menguasai Infrastruktur Pembayaran
Xendit menjadi salah satu perusahaan rintisan pertama yang sukses go public di kuartal pertama 2025. Sebagai penyedia infrastruktur pembayaran digital, Xendit memainkan peran penting dalam menghubungkan ribuan bisnis online dengan sistem pembayaran modern di Asia Tenggara.
Dengan valuasi mencapai lebih dari Rp 40 triliun saat IPO, Xendit dianggap sebagai simbol kepercayaan terhadap sektor fintech Indonesia. Laporan keuangannya menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang stabil dan tingkat profitabilitas yang terus meningkat.
Langkah Xendit ini menjadi pendorong bagi startup lain di sektor keuangan digital untuk melangkah ke arah yang sama.
โFintech seperti Xendit membuktikan bahwa inovasi keuangan bukan hanya solusi teknologi, tetapi juga fondasi bagi inklusi ekonomi nasional.โ
2. Ruangguru: Edukasi Digital yang Menjadi Inspirasi
Startup edukasi terbesar di Indonesia, Ruangguru, akhirnya melantai di bursa pada pertengahan 2025 setelah beberapa kali menunda rencana IPO. Keputusan ini datang setelah perusahaan berhasil mencatatkan pertumbuhan signifikan pascapandemi dengan ekspansi ke pasar Asia Selatan.
Dengan strategi bisnis yang berfokus pada hybrid learning dan teknologi AI untuk personalisasi pembelajaran, Ruangguru menjadi contoh bagaimana sektor pendidikan bisa berkembang secara komersial tanpa kehilangan misi sosialnya.
Ruangguru juga menarik perhatian investor global karena kemampuannya menjaga arus kas positif dan memiliki lebih dari 15 juta pengguna aktif di seluruh Asia.
โRuangguru adalah contoh nyata bahwa bisnis berbasis misi sosial bisa tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.โ
3. Shipper: Logistik Digital yang Mendorong Perdagangan Nasional
Ketika e-commerce tumbuh pesat, sektor logistik menjadi tulang punggung yang tidak terpisahkan. Shipper, perusahaan rintisan yang bergerak di bidang manajemen logistik digital, sukses mencatatkan saham perdananya pada akhir kuartal kedua 2025.
Dengan teknologi berbasis data dan jaringan gudang yang tersebar di lebih dari 100 kota, Shipper berhasil menekan biaya distribusi hingga 25 persen untuk pelaku UMKM dan brand besar. IPO Shipper disambut positif oleh pasar karena dianggap memiliki prospek jangka panjang di tengah pertumbuhan ekonomi digital.
โEfisiensi logistik adalah fondasi pertumbuhan ekonomi digital. Shipper menghubungkan jutaan transaksi dengan kecepatan dan keandalan yang tidak banyak pesaing mampu lakukan.โ
4. Sociolla: Beauty Tech yang Menarik Minat Generasi Muda
Di sektor ritel digital, Sociolla mencuri perhatian publik setelah resmi go public pada pertengahan 2025. Dengan kombinasi e-commerce dan pengalaman offline retail di berbagai kota besar, Sociolla menjadi pelopor konsep omnichannel beauty experience di Indonesia.
Pertumbuhan pendapatan Sociolla yang stabil serta loyalitas pelanggan yang tinggi membuatnya menjadi salah satu IPO tersukses tahun ini. Perusahaan ini memanfaatkan data pelanggan untuk menciptakan pengalaman belanja personal, meningkatkan engagement, dan mempertahankan profit margin yang sehat.
โSociolla berhasil membuktikan bahwa memahami konsumen dengan mendalam lebih berharga daripada sekadar menjual produk.โ
5. ESB (Erigo System Backend): Startup Teknologi F&B yang Jadi Fenomena
Tak kalah menarik, Erigo System Backend atau ESB yang dikenal sebagai penyedia sistem digital untuk industri makanan dan minuman juga sukses go public di akhir 2025.
Perusahaan ini menyediakan layanan Point of Sales (POS), manajemen inventori, dan sistem keuangan yang digunakan oleh ribuan restoran dan kafe di seluruh Indonesia. Kesuksesan ESB mencerminkan tren digitalisasi sektor F&B yang kian masif, di mana efisiensi menjadi kebutuhan utama bisnis kuliner modern.
Dengan pertumbuhan pengguna aktif lebih dari 300 persen dalam dua tahun terakhir, IPO ESB dinilai sebagai tonggak sejarah baru bagi startup SaaS Indonesia.
โDigitalisasi F&B bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. ESB berhasil menjadi jembatan antara dapur, kasir, dan data.โ
Faktor yang Membuat Startup Indonesia Siap Go Public di 2025
Kesuksesan startup di 2025 tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor penting yang menjadikan mereka siap untuk memasuki pasar modal, mulai dari regulasi pemerintah hingga kematangan manajemen bisnis.
1. Regulasi dan Dukungan Pemerintah
Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia terus memperkuat ekosistem go public bagi perusahaan teknologi. Regulasi baru yang lebih fleksibel untuk perusahaan digital, termasuk penerapan dual class share, memberi ruang bagi para pendiri untuk tetap memiliki kendali setelah IPO.
Kebijakan ini mendorong banyak startup untuk tidak takut melantai di bursa karena tidak kehilangan arah visi dan kendali perusahaan.
2. Fokus pada Profitabilitas dan Transparansi
Berbeda dengan tren IPO startup global pada awal 2020-an yang lebih mengandalkan narasi pertumbuhan, startup Indonesia kini lebih realistis. Mereka memastikan profitabilitas dan arus kas yang sehat sebelum melantai di bursa.
Laporan keuangan yang transparan, audit tahunan, serta tata kelola yang profesional membuat investor merasa aman dan percaya terhadap kinerja jangka panjang perusahaan.
โInvestor kini mencari startup yang bukan hanya tumbuh cepat, tapi juga tumbuh sehat.โ
Perubahan Paradigma Pendanaan di Dunia Startup
Sebelum 2025, sebagian besar startup Indonesia mengandalkan pendanaan dari modal ventura. Namun, kini banyak di antara mereka beralih ke pendanaan publik melalui IPO untuk memperluas akses modal sekaligus memperkuat reputasi di pasar.
Dengan menjadi perusahaan publik, startup memiliki akses ke modal yang lebih besar untuk ekspansi dan inovasi. Selain itu, status publik juga meningkatkan kredibilitas di mata mitra bisnis dan pelanggan.
Manfaat Strategis Setelah IPO
Bagi startup, IPO bukan hanya tentang modal tambahan. Ini juga menjadi sarana untuk memperkuat brand trust dan memperluas jaringan bisnis. Setelah melantai di bursa, banyak startup mendapatkan kemudahan dalam menjalin kemitraan dengan perusahaan besar, termasuk sektor perbankan dan pemerintahan.
โGo public bukan akhir dari perjalanan startup, melainkan pintu menuju tahap pertumbuhan yang lebih matang dan berkelanjutan.โ
Dampak Go Public Terhadap Ekonomi Digital Nasional
Keberhasilan startup Indonesia go public di 2025 tidak hanya berdampak pada perusahaan itu sendiri, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi digital nasional.
Dengan meningkatnya jumlah perusahaan teknologi yang terdaftar di bursa, Indonesia memperlihatkan bahwa transformasi digital tidak lagi sekadar tren, tetapi sudah menjadi pilar ekonomi baru.
Selain itu, IPO startup juga memberi peluang bagi masyarakat untuk ikut memiliki bagian dari perusahaan digital yang mereka gunakan setiap hari, seperti aplikasi belanja, pendidikan, atau logistik.
โKetika masyarakat bisa menjadi bagian dari startup yang mereka gunakan, maka ekonomi digital benar-benar menjadi milik rakyat.โ
Tantangan Pasca IPO yang Harus Dihadapi Startup
Meski IPO menjadi tonggak penting, perjalanan setelahnya tidak selalu mudah. Startup yang sudah go public harus mampu menjaga kinerja agar sesuai dengan ekspektasi pasar.
Transparansi dan akuntabilitas menjadi keharusan. Setiap keputusan manajemen akan diawasi publik, dan laporan keuangan akan menjadi bahan evaluasi investor setiap kuartal. Startup yang gagal memenuhi target bisa kehilangan kepercayaan pasar dalam waktu singkat.
Selain itu, tantangan eksternal seperti fluktuasi ekonomi global, perubahan nilai tukar, dan kebijakan moneter juga bisa memengaruhi kinerja saham perusahaan teknologi.
โSetelah menjadi perusahaan publik, setiap langkah harus diperhitungkan dengan matang. Pasar tidak menilai niat, tetapi hasil.โ
Potensi Gelombang IPO Startup Berikutnya
Keberhasilan beberapa startup pada 2025 menjadi pemicu gelombang baru di tahun-tahun berikutnya. Beberapa nama seperti Kredivo, Traveloka, dan Halodoc dikabarkan tengah mempersiapkan diri untuk melantai di bursa dengan valuasi yang tak kalah fantastis.
Fenomena ini menandai babak baru ekosistem digital Indonesia yang semakin matang, di mana inovasi dan keberanian untuk tumbuh tidak lagi menjadi monopoli perusahaan global.
Peningkatan jumlah startup publik juga memperluas basis investor domestik yang mulai melirik sektor teknologi sebagai bagian dari portofolio investasi mereka.
โEkosistem digital Indonesia kini berada pada fase di mana mimpi teknologi bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi nyata.โ






